*Robert Dynic
Sepintas lalu, teringat pada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa filsafat itu merupakan inti dari segala pengetahuan, dari sini mungkin orang awam akan beranggapan miring bahwa dengan berfilsafat kita tidak perlu mempelajari pengetahuan yang lain. Tentu hal semacam ini akan dianggap pembodohan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Sehingga perlulah penjelasan rinci mengenai ungkapan-ungkapan yang demikian.
Dari sebuah pernyataan diatas, dapat diperinci bahwa kita bukan lantas tidak perlu belajar pengetahuan yang lain. Belajar segala macam pengetahuan itu penting. Arti dari inti segala pengetahuan itu adalah dalam pengetahuan-pengetahuan lain terdapat aktivitas yang memang berasosiasi dengan filsafat. Seperti dizaman filsuf Yunani kuno, filsafat alam melingkupi astronomi, kedokteran, dan fisika. Semisal prinsip matematika filosofi alam karya Newton pada tahun 1687 diklarifikasikan sebagai buku fisika. Bahkan pada era modern, beberapa penyidikan tradisional yang merupakan bagian dari filsafat telah menjadi disiplin ilmu akademik seperti: psikologi, sosiologi, linguistlik dan ekonomi. Sehingga lahirlah kesimpulan bahwa filsafat bisa dikatakan adalah inti dari beberapa ilmu atau pun pengetahuan. Dan kita perlu tahu, salah satu cara memperoleh pengetahuan adalah melalui pengalaman. Seorang filsuf Yunani mengatakan, “orang pandai belajar dari pengalamannya dan orang bijak belajar dari pengalaman orang lain, tetapi orang bodoh tidak belajar apapun.” Lalu pengalaman yang seperti apa? Yaitu melalui pengalaman inderawi. Pengalaman yang berdasarkan indera-indera yang kita miliki. Entah indera pendengar, penglihatan, atau pun Peraba. Dari situlah timbulnya pengetahuan-pengetahuan yang kita dapat. Bisa dibuktikan dari riwayat hidup saya pribadi. Semisal bertani. Yang dulu juga pernah menjadi kegiatan saya dikampung. Hampir setiap hari saya membantu orang tua menggarap sawah. Dan itu pun tanpa terlebih dahulu mempelajari teori bertani. Akan tetapi sebelumnya saya hanya memperhatikan orang tua yang sedang bekerja. Lalu setelah itu saya memperaktekkannya langsung sekalian dengan membantu orang tua menggarap sawah. Dulu, saya punya teman yang kuliahnya memang disebuah perguruan tinggi pertanian. Dapat dipastikan hal-hal yang diajarkan disana pasti teori–teori atau pun seputar langkah-langkah tata cara bertani. Secara nalar, mungkin tidak akan dikatakan masuk akal jika dibandingkan saya yang memang tidak pernah sama sekali menyentuh atau pun mempelajari teori bertani diperguruan tinggi mana pun. Akan tetapi, dibandingkan dia (teman saya) saya lebih dulu tau dan menguasai cara-cara bertani itu seperti apa. Dan itu pun berkat saya sering memperhatikan orang tua yang sedang menggarap sawah. Dari pengalaman ini saya bisa tau bagaimana cara-cara bertani. Pengalaman ini bisa dikatakan sebagai pengalaman indera pemglihatan. Karena memang semua pengetahuan tentang bertani, saya dapatkan oleh karena saya melihat langsung orang tua yang bertani.
Dalam sebuah riwayat hidup saya yang lain, ketika saya kecil kira-kira sewaktu saya masih duduk dibangku sekolah dasar kelas empat, saya sama sekali tidak mempercayai adanya jin. Yang itu pun saya dengar dari paman saat berusaha menenangkan saya yang ketakutan ketika kebetulan melihat tetangga yang sedang kerasukan dan orang-orang pada mengatakan bahwa tetangga itu sedang kerasukan jin. Dari situ saya merasa takut. Bukan takut karena tetangga saya yang kesurupan itu ngamuk-ngamuk. Akan tetapi saya merasa takut nantinya saya akan kerasukan jin juga. Namun, setelah mendengar paman mengatakan “tenang.. didunia ini gak ada jin.” Dan mungkin waktu itu paman mengatakannya hanya untuk menenangkan saya yang sedang ketakutan. Akhirnya saya Cuma manggut-manggut dan meyakini. Dan seketika itu saya mempercayai perkataan paman. Bahwa didunia tidak ada jin. Namun selang beberapa bulan bahkan tahun. Ketika saya sudah sedikit-sedikit mulai mengerti kehidupan. Saya kembali mendapati hal yang serupa. Dan tentu tanpa instruksi lagi dari paman, bahwa adanya kejadian seperti ini adalah mitos. Ya, saya dulu mempercayainya sebagai mitos. Tetapi karena kejadian yang saat ini terjadi setelah saya mengenyam pendidikan dipesantren dan mendengar langsung dalil al-Qur’annya yang tertulis: “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.adz-Dzariyat: 56). Setelah mendengar itu saya berpikir “jika al-Qur’an sudah mengatakan seperti ini, apa yang dapat saya elak?” Sebagai orang muslim yang percaya terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, saya mengubah keyakinan yang awalnya menganggap adanya jin adalah mitos menjadi percaya bahwa jin itu memang benar ada atas dasar kepercayaan dalil yang telah dituliskan diatas. Dari situlah saya mendapat pengetahuan. Yaitu melalui pengalaman indera pendengar. Yang kadang tanpa disadari apa yang kita dengar bisa menjadi pengetahuan bagi diri kita.
Berdasarkan pengalaman saya, antara empirisme dan raionalisme mempunyai indikasi yang signifikan. Salah satu filsuf rene Descartes membuat semboyan “corgito ergo sum.” Saya berpikir, maka saya ada. Ini merupakan teori rasionalisme yang mengatakan bahwa segala pengetahuan manusia adalah bersumber dari pikiran kita yang nalar, memang bisa diterima secara akal namun tidak dengan kenyataan. Karena pada hakikatnya, pikiran tanpa dibarengi dengan pengalaman dan pengalaman tanpa dibarengi dengan pikiran, kebenarannya akan lemah. Seperti halnya yang terjadi dalam perjalanan hidup saya selama sekolah. Kasus yang terjadi adalah mengenai pelajaran matematika. Yaitu, bagaimana saya menghitung melalui berpikir artinya hanya mereka-reka dalam pikiran tanpa menghitungnya melalui pengalaman inderawi atau pun praktek. Saat itu saya mendapat tugas soal dikelas. Murid-murid dikelas mengerjakannya dengan seksama. Awalnya saya hanya mengandalkan otak/pikiran. Setelah menghitung dan hasil telah ditemukan, saya langsung menulis hasilnya dikertas jawaban. Namun sebelum saya kumpulkan, saya sempatkan mengintip jawaban temen sebelah yang dalam ilmu hitung-menghitung memang tidak diragukan. Dan ternyata jawaban kami berbeda. Saya bingung, kemudian mengecek kembali jawaban yang saya miliki. Saya membatin “Masak jawabanku salah!” akhirnya saya menghitungnya kembali secara tertulis. Setelah selesai, saya kembali menyocokkan hasil jawaban saya dengan jawaban teman sebelah saya. Saya kembali senang, karena hasilnya memang sudah sama. Selang beberapa menit setelah tugas soalnya dikoreksi bersama, jawaban saya benar keseluruhan. Akhirnya dari situ saya menyadari, bahwa apa yang menurut pikiran sudah benar, belum tentu benar menurut kenyataan. Lebih tepatnya kennyataan yang berbentuk pengalaman. Maka dari itu, bersfilsafat adalah berpikir, tetapi berpikir belum dipastikan berfilsafat. Karena kita adalah manusia yang merupakan makhluk berpikir dan memiliki pengalaman hidup dengan keberagaman persepektif.
Dari beberpa pengalaman hidup saya diatas, akhirnya saya dapat mengambil banyak pelajaran yang tentu akan menjadi pengetahuan untuk menciptakan perubahan dikemudian hari. Dan semua itu juga akan menjadi bukti, bahwa sukses itu bukan milik siapa yang lebih dulu berpengetahuan, tapi milik siapa yang mau berpengalaman. Jadi, intinya jika memang suatu kebenaran yang kita cari ingin dilampaui dengan baik dan sempurna, maka metode empirisme dan rasionalisme terapkan secara bersamaan. Karena keduanya memiliki indikasi yang akurat.

Jin samsuddin
BalasHapusjhos
BalasHapus