Nasib Kabupaten Sumenep Pasca Pilkada: Politik Uang dan Kekuatan Kolektif Masyarakat dalam Perspektif Sosiologi
| Gambar: NU Online https://www.nu.or.id/nasional/jenis-jenis-politik-yang-harus-diketahui-warga-nu-6ap9k |
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah momentum
penting yang tidak hanya menentukan pemimpin baru, tetapi juga mencerminkan
dinamika sosial politik di tingkat lokal. Kabupaten Sumenep, yang
terletak di ujung timur Pulau Madura, dikenal tidak hanya karena kekayaan
budaya dan tradisinya, tetapi juga karena dinamika politik lokal yang kompleks. Pilkada menjadi ajang tarik menarik antara dua
kekuatan utama: politik uang money
politics yang didorong oleh pragmatisme politik, dan kekuatan kolektif
masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Kedua kekuatan ini
tidak hanya memengaruhi hasil Pilkada, tetapi juga masa depan Sumenep sebagai
sebuah entitas sosial, ekonomi, dan politik.
Dalam tulisan ini, saya mencoba menganalisis bagaimana
benturan antara politik uang dan kekuatan kolektif masyarakat memengaruhi nasib
Kabupaten Sumenep pasca Pilkada, dengan menggunakan perspektif sosiologi
sebagai alat analisis.
Politik Uang:
Cerminan Pragmatisme Sosial di Sumenep
Politik uang adalah fenomena yang sering kali menjadi
bagian dari proses Pilkada, terutama di wilayah dengan tingkat ketimpangan
ekonomi yang tinggi seperti Sumenep. Dalam konteks ini, pemberian uang atau
barang oleh calon kepada pemilih bukan hanya strategi politik, tetapi juga cara
memanfaatkan kerentanan ekonomi masyarakat untuk meraih suara. Secara
sosiologis, hal ini mencerminkan adanya hubungan patron-klien yang masih kuat
dalam masyarakat Madura.
Max Weber, dalam teorinya tentang rasionalitas instrumental,
menjelaskan bahwa tindakan masyarakat yang menerima uang atau imbalan dalam
proses politik didasarkan pada kalkulasi rasional tentang keuntungan jangka
pendek. Dalam masyarakat Sumenep, kondisi ekonomi yang tidak merata sering kali
membuat tawaran materi dari calon pemimpin lebih menggoda dibandingkan janji
politik yang abstrak. Politik uang menjadi mekanisme untuk memenuhi kebutuhan
mendesak, meskipun hal ini dilakukan dengan mengorbankan kepentingan jangka
panjang, seperti kualitas pemerintahan dan pembangunan daerah.
Namun, politik uang tidak hanya berdampak pada
individu yang menerima, tetapi juga pada struktur sosial secara keseluruhan.
Dalam perspektif sosiologi konflik, seperti yang dikemukakan oleh Karl Marx,
politik uang mencerminkan upaya kelompok elit untuk mempertahankan dominasi mereka
dengan cara mengeksploitasi kerentanan masyarakat. Hasilnya adalah penguatan
ketimpangan sosial dan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi
secara kritis dalam proses politik.
Melihat
Sumenep dalam kondisi yang seperti ini sungguh sangat miris, akar rumput yang
seharusnya menjadi kekuatan tak terkalahkan oleh pola politik bagaimanapun,
justru dalam hal ini cenderung hanya dijadikan komoditas politik para elit.
Tentu hal ini menjadikan posisi masyarakat
hanya sebagai objek yang sangat murah harganya dan bahkan terkesan sangat
gampang dibodohi. Bahkan ironisnya, kondisi semacam ini terus berulang dari tiap
periode. Politik uang tak terkalahkan seolah menjadi tuan bagi kekuatan
kolektif masyarakat. Jika diperhatikan lebih lanjut Sumenep selalu menjadi
langganan sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan dan ekonomi yang
mengkhawatirkan. Kemiskinan structural tentu yang menjadi akar dari pemasalahan
ini. Kemudian kenapa setiap periode tetap demikian, tidak ada perubahan,
stagnan. Atau kalaupun ada perubahan mengapa Sumenep tetap menjadi objek yang
menerima predikat termiskin ketiga di Jawa Timur. Tentu kondisi semacam ini
menimbulkan prasangka bahwa hal itu memang sengaja dikonstruk agar sekuat
apapun pendidikan politik diberikan, namun kondisi ekonomi tetap dibiarkan
stganan tentu pola piker masyarakat akan tetap materialistik dan pragmatis
dalam urusan politik.
Kekuatan Kolektif
Masyarakat: Harapan untuk Perubahan Sosial
Di sisi lain, masyarakat Sumenep memiliki tradisi
kolektif yang kuat, yang dapat menjadi modal sosial untuk melawan politik uang.
Tradisi gotong royong ghibah dan
solidaritas berbasis nilai-nilai agama dan adat masih menjadi karakteristik
utama masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Kekuatan kolektif ini, jika
dimobilisasi dengan baik, dapat menjadi alat untuk menciptakan kesadaran
politik yang lebih kritis dan mendorong partisipasi masyarakat yang berbasis
pada nilai-nilai moral.
Émile Durkheim, melalui konsep solidaritas mekanik,
menjelaskan bahwa masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai bersama memiliki
kapasitas untuk menjaga kohesi sosial, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Dalam konteks Pilkada, kekuatan kolektif masyarakat di Sumenep sebetulnya sudah
dilaksanakan oleh salah satu pasanagn calon. Tujuannya sangat jelas mendorong
pemilih agar memilih berdasarkan visi dan misi kandidat, bukan sekadar imbalan
materi. Hanya saja mayoritas sumber daya manusia di Sumenep masih terlampau
jauh terlena oleh rayuan manis politik uang.
Padahal pada praktiknya kekuatan kolektif ini sudah
diperkuat melalui pendidikan politik yang berbasis pada nilai-nilai lokal.
Misalnya, forum keagamaan, seperti pengajian atau diskusi di pesantren. Namun
sekali lagi, hal itu tak terlampau berdampak pada pengurangan pola negatif
politik uang. Padahal sudah sangat jelas dengan cara ini, masyarakat tidak
hanya diberdayakan secara politik, tetapi juga secara moral dan intelektual.
Selain politik uang, oligarki juga menjadi fenomena
dominan di Sumenep. Keberadaan keluarga-keluarga berpengaruh atau kelompok elit
tertentu di Sumenep sering kali mendikte arah politik lokal. Sebagaimana teori
elite dari Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca menjelaskan, kekuasaan cenderung
terkonsentrasi pada segelintir individu atau kelompok yang mampu mengendalikan
struktur sosial, ekonomi, dan politik. Oligarki merujuk pada kekuasaan yang
terkonsentrasi di tangan sekelompok kecil elit politik dan ekonomi yang
memiliki akses besar terhadap sumber daya strategis. Polanyapun sangat beragam,
mulai dari mobilisasi melalui orang yang sangat berpengaruh dimasing-masing
objek, sampai berdasarkan pengakuan kawan penulis ada pula yang melalui pola
tindakan “abuse of power” beberapa oknum pemerintah desa menggiring masyarakat
untuk condong pada calon pilihan oligarki.
Dalam analisis sosiologi struktural, seperti yang
dijelaskan oleh Max Weber dan Vilfredo Pareto, kekuasaan oligarki dipertahankan
melalui legitimasi sosial, jaringan politik, dan kontrol atas sumber daya
ekonomi. Para elit ini memanfaatkan posisi mereka tidak hanya untuk
mempertahankan kekuasaan, tetapi juga untuk membatasi partisipasi masyarakat
dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, masyarakat sering kali menjadi objek
pasif yang hanya menerima dampak dari keputusan elit.
Namun, dominasi oligarki dan politik uang tidak
sepenuhnya menghilangkan kekuatan masyarakat. Dalam perspektif sosiologi
budaya, masyarakat Sumenep memiliki modal sosial yang dapat menjadi benteng
melawan dominasi elit. Tradisi musyawarah, gotong-royong, dan nilai
kekeluargaan yang kuat memberikan mereka daya tahan terhadap infiltrasi politik
uang.
Teori Pierre Bourdieu tentang habitus dan modal sosial
relevan dalam menjelaskan dinamika ini. Habitus masyarakat yang terbentuk dari
tradisi lokal memungkinkan mereka untuk mempertahankan nilai-nilai bersama di
tengah tekanan eksternal. Modal sosial berupa kepercayaan antaranggota
komunitas juga menjadi landasan bagi resistensi terhadap dominasi politik.
Beberapa gerakan masyarakat sipil di Sumenep telah
menunjukkan potensi untuk membangun kesadaran politik warga. Melalui
forum-forum informal seperti pengajian, diskusi komunitas, dan kegiatan adat,
masyarakat mulai memahami pentingnya kedaulatan suara mereka. Dengan akses
informasi yang semakin terbuka, terutama melalui media sosial, gerakan ini dapat
diperkuat untuk menantang praktik politik uang dan oligarki.
Benturan antara
Politik Uang dan Kekuatan Kolektif: Implikasi Sosiologis
Pasca Pilkada, benturan antara politik uang dan
kekuatan kolektif masyarakat sering kali meninggalkan jejak yang memengaruhi
struktur sosial-politik lokal. Jika politik uang lebih dominan, kemungkinan
besar akan terjadi fragmentasi sosial, di mana masyarakat terpecah berdasarkan
aliansi politik dan kepentingan pragmatis. Dalam konteks ini, solidaritas
sosial yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Sumenep dapat melemah,
digantikan oleh hubungan yang lebih transaksional.
Sebaliknya, jika kekuatan kolektif masyarakat berhasil
mendominasi, hasilnya adalah proses politik yang lebih inklusif dan demokratis.
Dalam perspektif Anthony Giddens, masyarakat sebagai agen memiliki kapasitas
untuk memengaruhi struktur politik lokal melalui tindakan kolektif yang
terorganisir. Dengan kata lain, nasib Kabupaten Sumenep pasca Pilkada sangat
bergantung pada sejauh mana masyarakat mampu memobilisasi kekuatan kolektif
mereka untuk melawan politik uang.
Selain itu, keterlibatan pemuda dalam organisasi
masyarakat sipil dapat memperkuat gerakan anti-oligarki. Sebagaimana teori
interaksionisme simbolik dari George Herbert Mead menjelaskan, interaksi
simbolis antara pemuda dan masyarakat dapat menciptakan perubahan makna tentang
politik dan kekuasaan dalam komunitas lokal.
Namun celakanya, ada pemuda yang mengartikan insteraksi simbolis pada
makna yang lain. Alih-alih untuk memberikan pendidikan politik mewakili kaum
muda bagi orang yang masih awam dalam politik, justru mereka terlena dan
berselingkuh dengan kekuasaan.
Nasib Kabupaten
Sumenep Pasca Pilkada
Pasca Pilkada, Kabupaten Sumenep menghadapi beberapa
kemungkinan skenario yang sangat dipengaruhi oleh dinamika antara politik uang
dan kekuatan kolektif masyarakat.
Jika politik uang terus mendominasi, Sumenep berisiko
mengalami stagnasi dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Pemimpin yang terpilih
melalui politik uang cenderung fokus pada kepentingan pribadi atau kelompoknya,
daripada kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, hal ini
dapat memperburuk ketimpangan sosial dan memperlemah partisipasi politik
masyarakat.
Sebaliknya, jika kekuatan kolektif masyarakat berhasil
mengatasi dominasi politik uang, Sumenep memiliki peluang untuk menciptakan
pemerintahan yang lebih transparan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Hal ini membutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemimpin lokal, dan
organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat pendidikan politik dan mendorong
akuntabilitas dalam pemerintahan.
Salah satu alasan utama mengapa politik uang begitu
efektif di Sumenep adalah karena kerentanan ekonomi masyarakat dan pola pikir
jangka pendek dan resiten yang terus dirawat.
Nasib Kabupaten Sumenep pasca Pilkada sangat
ditentukan oleh interaksi antara politik uang dan kekuatan kolektif masyarakat.
Jika masyarakat mampu memobilisasi nilai-nilai tradisional seperti gotong
royong dan solidaritas untuk melawan dominasi politik uang, Sumenep memiliki
peluang untuk menciptakan pemerintahan yang lebih inklusif dan responsif.
Namun, jika politik uang terus mendominasi, daerah ini berisiko terjebak dalam
siklus stagnasi yang merugikan masyarakat.
Dalam perspektif sosiologi, perubahan sosial tidak
terjadi secara instan, tetapi membutuhkan upaya kolektif yang konsisten. Dengan
memadukan pendidikan politik, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan nilai-nilai
lokal, seharusnya Sumenep dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal dapat
mengatasi tantangan politik dan sosial untuk menciptakan masa depan yang lebih
baik. Namun nahasnya, gurita politik oligarki rasa-rasanya terlalu mendominasi
dan kesadaran kolektif masyarakat tak cukup kuat melawan itu. Maka sampai
kapanpun, kekuasaan akan terus berada pada lingkaran elit yang sama, dan
masyarakat Sumenep aka terus menjadi perantau
sebab keprihatinan ekonomi lokal yang tak bisa menjadi pijakan.
Pesan
penting untuk siapapun yang memimpin Sumenep, mengutip sepenggal kalimat yang
disampaikan oleh Kyai Faizi: "Jabatan itu bukan warisan tinggi, esok
mungkin kau terhempas sunyi. Jangan lupa siapa yang memberi kuasa (rakyat), dan
untuk siapa (rakyat) amanahmu dipelihara." Rakyat adalah sumber
legitimasi, dan hanya dengan menghormati kedaulatan mereka, demokrasi yang
sejati dapat terwujud di Sumenep.
*Wafiruddarroin
Komentar
Posting Komentar