Langsung ke konten utama

Analisis Sosiologi Atas Fenomena Putra Kyai Sebagai Pelaku Cabul Dan Mendapat Perlindungan



Zulkipli ikhsan*



Sudah ramai dimedia mengenai berita anak kiyai dari Jombang yang merupakan tersangka kasus pencabulan sejumlah anak perempuan di Jombang Jawa Timur, putra kiyai yang saat hendak di tangkap oleh polisi dihadang warga sehingga membuat gagalnya polisi menangkap putra kiyai tersebut. Fenomena tersebut tentu tak bisa di hindarkan dari analisis sosiologis dari gagasan Karl Marx tentang agama.

Dalam gagasan Karl Marx mengenai agama, bahwa Marx memandang agama sebagai opium atau yang fenomenal biasa disebut religion it das opium jika diartikan "agama adalah candu" sebenarnya jika dianalisis lebih dalam gagasan Marx mengenai agama bukan hanya sebatas kata agama adalah candu, gagasan Marx mengenai agama pasti akan meliputi ekonomi, sosial dan politik, agama yang dianut oleh masyarakat merupakan sebuah obat penenang semata, seperti ketika hidup miskin di tenang kan dengan ceramah ustadz bahwa kemiskinan membuat hisab nanti di akhirat lebih mudah, hal tersebut dipandang Marx merupakan penenang atau opium.

Jauh lebih dari itu Marx memandang bahwa para tokoh keagamaan mempunyai sisi otoritas yang besar terhadap masyarakat lewat dogma-dogma agama yang diberikan pada masyarakat, dalam konteks fenomena di Jombang ini sangat relate karena susahnya menangkap tersangka karena ia adalah putra kiyai, melihat kasus-kasus pencabulan yang selama ini terjadi jika tersangka bukan seorang tokoh agamawan tentu tidak akan sulit seperti menangkap putra kiyai ini. Kesulitan polisi menangkap putra kiyai ini karena adanya hadangan massa pada saat proses penangkapan putra kiyai tersebut. Artinya tokoh agama disini sangat berpengaruh sehingga menjadikan masyarakat bergerak tanpa rasionalitasnya, agama dijadikan alat pelindung bagi para petinggi keagamaan untuk melindungi dirinya, Marx melihat bahwa agama sekarang adalah suatu kepentingan para petinggi agama untuk ekonomi, sosial dan politik mereka, bisa dilihat pada kasus putra kiyai Jombang ini bahwa para petinggi agama melakukan hal-hal tidak sesuai agama tapi tetap saja masyarakat membela mereka, karena doktrinasi agama lewat dogma-dogma sangat kental seperti, "melawan terhadap kiyai adalah sebuah perbuatan berdosa" hal-hal seperti itu yang membuat masyarakat akan nurut terhadap seorang tokoh agama bukan pada tuhan nya.


*Mahasiswa Sosiologi UNUSIA Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PARADOKS DOMINASI KUASA DALAM KASUS FERDY S

  *Robert Dynic Peristiwa panjang yang entah sampai kapan akan berlangsung, tentu masih membuat publik bertanya- tanya dan berspekulasi. Disamping karena peristiwa ini menyangkut Keterlibatan beberapa tokoh dalam institusi penting negara, selain itu juga hal ini mendapat banyak perhatian publik karena berkaitan dengan tragedi   kemanusiaan yang tragis. Terlepas dari pada itu, penulis lebih tertarik membahas bagaimana konstruksi peristiwa, fakta sosial, dan gejala-gejala sosial yg menjadi latar terjadinya peristiwa ini. Peristiwa semacam ini tentu saja bukan pertama kalinya yang menunjukkan betapa “kotornya” rumah besar yang beranama kekuasaan dalam   intitusi tersebut.   Bahkan sejak era Reformasi bergulir, tidak dapat dipungkiri upaya membersihkannya selalu sulit dan justru malah sering muncul masalah rivalitas kepentingan internal, maupun eksternal khususnya dengan KPK. Misalnya kasus Cicak-Buaya Jilid 1-3. Selain itu mulai dari kasus simulator SIM, Susno Duaji...

Nasib Kabupaten Sumenep Pasca Pilkada: Politik Uang dan Kekuatan Kolektif Masyarakat dalam Perspektif Sosiologi

  Gambar: NU Online https://www.nu.or.id/nasional/jenis-jenis-politik-yang-harus-diketahui-warga-nu-6ap9k Pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah momentum penting yang tidak hanya menentukan pemimpin baru, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial politik di tingkat lokal. Kabupaten Sumenep, yang terletak di ujung timur Pulau Madura, dikenal tidak hanya karena kekayaan budaya dan tradisinya, tetapi juga karena dinamika politik lokal yang kompleks . Pilkada menjadi ajang tarik menarik antara dua kekuatan utama: politik uang money politics yang didorong oleh pragmatisme politik, dan kekuatan kolektif masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Kedua kekuatan ini tidak hanya memengaruhi hasil Pilkada, tetapi juga masa depan Sumenep sebagai sebuah entitas sosial, ekonomi, dan politik. Dalam tulisan ini, saya mencoba menganalisis bagaimana benturan antara politik uang dan kekuatan kolektif masyarakat memengaruhi nasib Kabupaten Sumenep pasca Pilkada, dengan menggunak...

SISI LAIN KAPITALISME

  *Robert Dynic Kapitalisme berasal dari kata capital artinya kepala. Namun akhirnya mengalami asimilasi bahasa yang kemudian mempunyai arti sebagai alat, bahan dll. Kapitalisme umunya kita pahami sebagai paham yang mengutamakan modal. Kapitalisme sendiri muncuul dari masyarakat agararis dan masyarakat industri.   Masyarakat agraris masayarakat yang hidupnya dihabiskan dengan masalah tanah atau bercocok tanam dsb. MARX menyebutkan etika protestant memrupakan salah satu sebab munculnya kapitalisme. Bahkan Calvinisme yang seotang pendeta, dia mengatakan bahwa ketika kita meau melakukan ibadah ada tiga hal yang harus dilakukan: bersedekah, Doktrin yang dipake oleh calvinisme adalah mengatakan bahwa ketika kamu ingin mencapai syurga maka kamu harus memiliki harta atau katakanlah kamu harus kaya. Garis besar munculnya kapitalisme adalah ketika terjadinya revolusi perancis. Bahwa dalam dinamika yang terjadi pada saat itu kekuasaan tanah ada ditangan raja berdasarkan legitimate ger...