Jutaan bahkan
milliaran orang dibuat bingung dan resah dengan adanya virus covid-19 yang
hampir menjangkit sebagian besar orang diseluruh penjuru dunia. Keresahan itu
semakin menjadi setelah WHO, lembaga kesehatan dunia mem-publish bahwa
virus tersebut merupakan virus yang mewabah cepat sampai akhirnya kebijakan lockdown
dikeluarkan untuk negara-negara yang banyak korban terjangkitnya. Terbukti virus yang beberapa bulan lalu ini
muncul memang sangat cepat merebak dan banyak memakan korban. Di Indonesia
sendiri, kalkulasi jumlah korban yang dilakukan oleh BNPB hingga kamis kemarin(16/7/2020),
tercatat ada 1.574 kasus baru dan total keselurahan di Indonesia telah mencapai
81.668 orang.[1]
Terlepas dari penularannya yang sangat cepat, impaknya terhadap sistem
kehiduapan juga sangat besar. Selain pada sistem ekonomi, sosial, pendidikan,
hal itu juga besar pengaruhnya terhadap agama, utamanya tradisi-tradisi atau
budaya yang sudah lama menjadi ketetapan seperti ritual-ritual ummat beragama
pada umumnya harus difleksibilitas menyesuaikan protokol kesehatan pemerintah.
Ritual peribadatan dimodifikasi untuk bisa sesuai dengan protokol. Salah
satunya seperti adanya social distancing dalam penerapan ibadah yang
dilakukan secara berkerumun sampai juga dalam beberapa bulan terakhir,
tempat-tempat ibadah ditutup untuk sementara waktu, toh meski pada hakikatnya
sifat agama memang sulit untuk dipisahkan dari ikatan komunitas dan tindakan
berkerumun. Sehingga tidak dapat dipastikan semua orang bisa mengikuti
ketentuan-ketentuan tersebut.
Bentuk
ketentuan baru terkait dengan covid-19 dalam hal peribadatan itu tidak hanya diterapkan
dalam satu agama, beberapa agama yang dianut orang-orang Indonesia juga telah
membuat ketentuan tindakan yang serupa, semua itu tidak terlepas untuk memutus
mata rantai penyebaran virus corona. Melihat hal tersebut mungkin konsolidasi
antara pemerintah dan agamawan dalam mencegah penularan virus corona bisa
dianggap selesai, dapat dipastikan setelah beberapa dari ormas islam seperti
Muhammadiyah dan PBNU mengeluarkan surat edaran untuk mematuhi protokol
kesehatan serta membuat acuan aktivitas ibadah model baru, begitu juga
pemuka-pemuka agama lainnya yang ada di Indonesia turut memberlakukan ketentuan
yang sama. Namun tidak cukup sampai
disitu, mengutip dari artikel The Conversation.com mengenai catatan ahli agama
dari AS Michael Dols, dalam menyikapi paradoks umat Islam menghadapi wabah,
bahwa menurutnya ada dua madzhab umat Islam dalam menghadapi wabah diantaranya,
memahaminya sebagai ketentuan teologis atau sebuah takdir yang tidak bisa
ditolak, dalam hal ini umat Islam harus senantiasa memperbanyak berdoa,
bertaubat, dan lebih mendekatkan diri keapada Tuhannya. Sementara madzhab kedua
memahaminya sebagai kenyataan empiris yang harus dengan ikhtiar untuk bisa
mengatasinya, seperti halnya tetap mendekatkan diri kepada Tuhan namun juga
harus melakukan upaya mencari keselamatan.[2]
Ungkapan
Michael Dols diatas memang berwujud realita, di Indonesia meski para
pemuka-pemuka agamanya sudah saling sepakat untuk mengikuti protokol kesehatan
serta menerima virus corona sebagai virus yang mematikan, tidak semua
penganutnya mengindahkan ketentuan tersebut. Seperti halnya yang saya temukan di
Madura, pulau yang saya kenal sarat akan keramahan penduduknya, semangat
toleransi yang tinggi, serta dikenal sebagai lumbung NU (penduduknya mayoritas
NU), bahkan tidak sedikit orang luar menyebutnya NU bagi orang Madura adalah
agama, dari saking khidmatnya orang madura terhadap NU. Meski demikian, tidak
lantas semua kebijakan PBNU diikuti, contohnya seperti ketentuan-ketentuan baru
PBNU dalam peribadatan yang menyesuaikan standar protokol kesehatan justru
malah banyak dinilai kontroversial. Ada yang menganggapnya hanya akan
menghambat pada nilai-nilai ibadah, namun tidak sedikit pula yang menganggapnya
perlu diikuti juga sebagai langkah ikhtiar.
Tidak jauh beda
dengan daerah atau kota lainnya, kepulangan orang-orang yang dari luar daerah
akan disambut dengan pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan cairan disinfektan
ketika mulai masuk diperbatasan daerah yang akan kita masuki itu. Sampai disitu
saya berpikir ternyata masyarakat Madura tidak tergolong madzhab pertama yang
dikatakan oleh Dols diatas, melihat orang-orang sekitar juga banyak yang
menggunakan masker dan jalanan tampak sepi (itu tandanya orang-orang
mengindahkan kebijakan pemerintah untuk stay at home), pikir saya waktu
itu. Namun kenyataan tersebut terbantahkan ketika beberapa bulan saya menetap
disana, statemen dan berbagai stigma masyarakat terkait covid-19 ternyata jauh
dari pemikiran saya waktu baru sampai di Madura. Perbedaannya memang sangat
jauh, ketika melihat masyarakat Madura sebelum sampai ditetapkan masa pandemi oleh
WHO, semua aktivitas kehidupan terutama dalam melakukan ritual ibadah berjalan
dengan semestinya. Jika kita amati cara shaf/berbaris dalam solat berjamaah
sebelum menyebar luasnya kabar virus corona, orang-orang sangat antusias untuk
saling merapatkan barisan bahkan berlomba-lomba untuk menempati barisan paling
depan. Namun keadaannya berbeda ketika corona mulai ramai diperbincangkan dan
beberapa media sudah banyak memperlihatkan korban yang meninggal. Semenjak itu
antusias untuk solat berjamaah semakin menurun. Hanya
saja hal itu tidak berumur panjang, setelah beberapa pemuka agama dari berbagai
daerah yang ada di Madura menghimbau masyarakat untuk tidak terlalu merasa
paranoid, kekhawatiran masyarakat mulai melunak. Ada pula yang dengan tegas
mengekspresikannya pada masyarakat dengan ketentuan teologis, bahwa garis
ketentuan hidup Tuhanlah yang menentukan. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali
Tuhan, termasuk virus corona yang membuat masyarakat khawatir. Selang beberapa
lama akhirnya paradigma masyarakat terkait Covid-19 mulai simpang-siur. Sampai
ada yang menganggap ini adalah konsprirasi global. Hal itu juga disebabkan
karena berbagai sumber info yang diakses masyarakat sangat relatif dan berbeda
dalam penyaringannya.
Awal tersiar
kabar adanya virus Covid-19 bagi masyarakat Madura memang seolah-olah
menjadi momok menakutkan, sehingga tidak
sedikit ritual peribadatan yang jarang dijalankan bahkan ditiadakan sama
sekali. Bagi masyarakat Madura yang mayoritas beragama muslim, ritual
peribadatan seperti halnya tahlilan dirumah orang yang berduka, dan berbagai
selametan lainnya yang lazimnya dilakukan secara berkerumun nyaris tidak
dilaksanakan dengan semestinya. Fenomena semacam ini, jika ditarik kesimpulan
tanpa berpikir panjang memang akan terkesan seakan adanya Covid-19 akan menjadi
dekadensi religi terhadap ritual-ritual peribadatan, toh meski pada hakikatnya
kita belum bisa memastikan bahwa adanya virus Covid-19 adalah bentuk alamiah
atau hanya konspirasi belaka.
Mengingat
penyebaran virus Covid-19 sampai sekarang belum menemukan solusi yang tepat,
serta melihat jumlah korban semakin meningkat, membayangkan kondisi bangsa
kedepan seakan-akan semakin melarat, bilamana virus corona tak
henti-hentinya seolah terus menjerat, membuat orang sepantasnya akan merasa
semakin resah dan khawatir, namun tidak dengan kondisi sebagian besar
masyarakat Madura saat ini, antara tegas atau nekat mereka beraktivitas seperti
sedia kala. Segala kegiatan ritual peribadatan kembali berjalan normal, seolah-olah
corona telah berakhir, toh kenyataannya memang benar nyaris tidak ada jumlah
korban yang bertambah. Mengaca dari fenomena tersebut dalam memprediksi keadaan
setelah berakhirnya corona nanti, ada kemungkinan semua aktivitas akan kembali
normal tanpa perlu adanya solusi dari vaksin. Masyarakat akan terbiasa dengan semua itu, dan
saya rasa mayoritas sudah paham bahwa salah satu solusi ampuhnya adalah dengan
selalu meningkatkan imunitas tubuh. Wallahuaa’lam.

Komentar
Posting Komentar