*Robert Dynic
Apa yang kau pahami tentang kemarau yang tandang di kotaku?
Hampir seperempat musim hujanmu tak lagi datang
Sekedar menjamah tanah-tanahku yang kini gersang
Sepetak ladang merah terpecah-pecah kering kerontang
Sebab air yang aku tenggak, tawar mematikan tanaman dalam ladang
Ini sungguh membuat danauku menggenang
Umpama rindu yang terikat pada seutas benang
Aku, kau jerat dalam terjal bebatuan karang
Sampai hakikat kedamaian timbul sebagai gerbang
Selepasnya tak ada lagi camar-camar yang bertandang.
Nun…
Tidakkah kau tanggalkan kepastian dalam rihlah yang tepat
Agar dinamis keseteruan dengan mudah tergenggam erat
“Ini kematian yang terkubur dalam dubur.” Ungkapmu begitu padat
Padahal disetiap simpang jalanannya,
Tak kutemukan kebisingan maut
Hanya pekikan-pekikan tasbih curah dari sekian banyak mulut
Apa itu yang membuatmu takut?
Sementara disini,
Aku tetap diam menafsir hikayat hidup
Dalam gumpalan kabut.

Komentar
Posting Komentar