Dalam catatan historis KONFERCAB PMII Kabupaten Bogor yang menjadi ajang berkontestasi politik dalam skala mikro, hampir dari tahun ketahun memang tidak lepas dari perdebatan entah dari peserta maupun peninjau yang kemudian berujung ceos. Memang tidak menutup kemungkinan hal demikian dapat terjadi dimana saja, baik dibirokrasi pemerintahan, atau dalam struktur sosial masyarakat kerap kali mengelami hal yang sama. Karena yang namanya konflik, tidak terikat hanya pada satu objek atau pelaku konflik saja. Semua orang atau elemen-elemen yang ada didunia ini, tidak akan lepas dari konflik. Konflik menjadi bagian dalam hidup manusia, karena manusia hidup bermasyarakat dan dalam bermasyarakat atau kelompok itu sendiri terdapat struktur yang mengatur sedemikian rupa sehingga terbentuklah suatu tatanan yang kompleks. Selain itu, interaksi sosial yang terjadi dalam bermasyarakat atau kelompok juga menjadi pemicu terjadinya konflik. Interaksi didalamnya juga diatur oleh struktur sosial yang mengatur perilaku dan mempengaruhi personal seseorang atau bahkan membentuknya. Oleh karena itu, adanya konflik memang perlu, dalam perspektif salah satu tokoh sosiologi Ralf Dahrendorf bahwa semua perubahan sosial yang dialami manusia merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat maupun kelompok.
Sangat jelas kita amati, proses berjalannya Konferensi Cabang PMII Kabupaten Bogor yang seharusnya hanya berlangsung selama dua hari dari tanggal 15-16 tersebut tidak sesuai ekspektasi awal. Yang menjadi pemicu utama adalah adanya perdebatan yang saling kokoh memperjuangkan gagasan masing-masing yang dibangun. Adanya gagasan tersebut ternyata tidak diterima antara satu dengan yang lain, lalu kemudian disebabkan dengan tidak kondusifnya forum yang dipicu oleh adanya perdebatan saling mempertahankan gagasan, forum tersebut dipending oleh presidium sidang atas instruksi Badan Pekerja Konfercab (BPK) untuk beberapa saat, sampai ada kabar selanjutnya dari BPK tersebut.
Hal yang sangat disayangkan oleh beberapa peserta yang hadir dalam Konfercab tersebut, dari pihak BPK sendiri ternyata kurang profesional dan tidak benar-benar serius dalam suksesi berjalannya Konfercab ini. Sebab mengapa demikian? Ditinjau dari redaksi pernyataan presidium sidang berdasarkan instruksi pimpinan BPK bahwa sidang hanya dipending beberapa saat artinya bukan ditunda, dalam realitasnya persidangan sampai saat terakhir tulisan ini dibuat ternyata tidak juga terealisasi. Dan itu penulis rasa sebuah kecacatan yang sangat dipolitisasi oleh pimpinan BPK sendiri. Entah ada kepentingan atau memang ada hal yang diberatkan, tetap tidak semestinya dilakukan oleh pimpinan sebagai pemegang otoritas tertinggi. Perlu dicatat, bahwa pimpinan memang memiliki otoritas tertinggi, tetapi juga ingat bahwa komponen-komponen dibawahnya juga memiliki otoritas yang melekat pada dirinya masing-masing. Dalam teori struktur fungsionalisme Emile Durkheim, masyarakat atau kelompok adalah suatu sistem dari struktur-struktur sosial. Struktur dalam hal ini adalah pola-pola nyata hubungan atau interaksi antara berbagai komponen masyarakat, pola-pola yang secara relatif bertahan lama karena interaksi-interaksi tersebut terjadi dengan cukup terorganisasi. Dalam perspektif struktural-fungsionalisme, setiap individu itu menempati suatu status dalam berbagai struktur masyarakat atau kelompok. Individu yang menempati suatu status juga dianggap memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu, yang merupakan peranan dalam status tersebut. Jadi, status dan peranan cenderung berada bersama-sama dalam apa yang disebut sebagai “kumpulan status dan peranan”.
Maka dari itu, meski dalam tatanan birokrasinya dia adalah seorang pemimpinnya, tidak sepantasnya juga memutuskan sepihak terkait hal yang perlu dimusyawarahkan.
Maka yang sangat diharapkan oleh penulis, pimpinan itu harus bijaksana, artinya jangan sampai ada negosiasi politik hitam yang dibangun dibelakang. Disadari atau tidak itu akan memunculkan stigma negatif dari orang yang membaca gerakan mereka atau akan menjadi catatan hitam bagi publik.
Hal yang sangat disayangkan oleh beberapa peserta yang hadir dalam Konfercab tersebut, dari pihak BPK sendiri ternyata kurang profesional dan tidak benar-benar serius dalam suksesi berjalannya Konfercab ini. Sebab mengapa demikian? Ditinjau dari redaksi pernyataan presidium sidang berdasarkan instruksi pimpinan BPK bahwa sidang hanya dipending beberapa saat artinya bukan ditunda, dalam realitasnya persidangan sampai saat terakhir tulisan ini dibuat ternyata tidak juga terealisasi. Dan itu penulis rasa sebuah kecacatan yang sangat dipolitisasi oleh pimpinan BPK sendiri. Entah ada kepentingan atau memang ada hal yang diberatkan, tetap tidak semestinya dilakukan oleh pimpinan sebagai pemegang otoritas tertinggi. Perlu dicatat, bahwa pimpinan memang memiliki otoritas tertinggi, tetapi juga ingat bahwa komponen-komponen dibawahnya juga memiliki otoritas yang melekat pada dirinya masing-masing. Dalam teori struktur fungsionalisme Emile Durkheim, masyarakat atau kelompok adalah suatu sistem dari struktur-struktur sosial. Struktur dalam hal ini adalah pola-pola nyata hubungan atau interaksi antara berbagai komponen masyarakat, pola-pola yang secara relatif bertahan lama karena interaksi-interaksi tersebut terjadi dengan cukup terorganisasi. Dalam perspektif struktural-fungsionalisme, setiap individu itu menempati suatu status dalam berbagai struktur masyarakat atau kelompok. Individu yang menempati suatu status juga dianggap memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu, yang merupakan peranan dalam status tersebut. Jadi, status dan peranan cenderung berada bersama-sama dalam apa yang disebut sebagai “kumpulan status dan peranan”.
Maka dari itu, meski dalam tatanan birokrasinya dia adalah seorang pemimpinnya, tidak sepantasnya juga memutuskan sepihak terkait hal yang perlu dimusyawarahkan.
Maka yang sangat diharapkan oleh penulis, pimpinan itu harus bijaksana, artinya jangan sampai ada negosiasi politik hitam yang dibangun dibelakang. Disadari atau tidak itu akan memunculkan stigma negatif dari orang yang membaca gerakan mereka atau akan menjadi catatan hitam bagi publik.
18, November 2019
*Wafiruddaroin/Kader PMII UNUSIA Cabang Kabupaten Bogor

Komentar
Posting Komentar