Langsung ke konten utama

(Cerpen) Guntoran*



*penulis: Robert Dynic

Seperti suatu hal yang lazim bagi para manusia biasa pada umumnya. Kejadian-kejadian yang menyerupai lakon fiktif yang kebanyakan hanya terjadi di dalam sebuah cerita, kini benar-benar nyata di depan mata.
Pagi buta, langit tetap dalam keadaan semula. Membentang dengan mendung yang menyelimuti. Hujannya rintik meretas di atas atap seng perumahan. menciptakan bunyi yang merembes digendang telinga. Kuperhatikan langkah Kardiman yang lewati jalan becek depan rumah. Kakinya yang lebar di biarkan tak beralas. Capil lebar bertengger di atas kepalanya yang lonjong. 
“Hendak kemana, Man?” Aku menyapanya. Dia menoleh ke arahku. Kemudian  menghentikan langkah. 
“Eh ini, Mad, mau membuat bendungan di ladang. Sepertinya tanaman akan kelebihan air jika hujan terus-terusan turun.” Jawabnya dengan senyum yang mengembang pada mukanya yang sedikit basah terkena percikan air hujan. Lalu dia melanjutkan langkahnya beitu aku mengangguk-ngangguk paham. Masih kuperhatikan langkahnya dari belakang. Kudapati tubuhnya tak lagi tegap seperti kala kita masih sama-sama  duduk di bangku SMA. Aku mengenalnya sebagai sosok yang ulet dalam menggeluti pekerjaan apa pun.  Termasuk saat kita berlomba-lomba untuk mendapatkan juara kelas dulu. Kehebatannya memang perlu diakui. Namun sayang beribu–ribu sayang. Nasab kami dari keturunan orang tak berkecukupan. Hingga pendidikan kami terjal dipertengahan jalan. Sementara zaman kita dulu masih tidak ada yang namanya beasiswa. Sudah pasti kelebihan-kelebihan yang kami miliki tak terwadahi. Keterpaksaanlah yang mungkin kami rasakan saat itu. Dengan mengambil alih keahlian orang tua sebagai buruh tani, akhirnya  pun kami tenggelam menggelutinya.
Dia telah sampai di tikungan jalan. Tubuhnya tak lagi aku temukan. Hanya bekas jejak kakinya yang tersisa di tanah yanga berlumpur. Aku bangkit dan turun dari dipan. Sementara hujan tetap bertahan. 
“Percuma saja menunggu hujan reda. Sepertinya untuk kali ini akan bertahan lama.” Ucapku pada diri sendiri.  Kemudian aku melangkah ke dalam rumah. Mencari sebuah payung sebagai pelindung untuk pergi mengecek jalannya air di sawah. Ternyata benar, hujan semakin deras saja. Aku berjalan menjinjit guna tidak jatuh pada tanah yang berlumpur. 
Andaikan ada orang asing yang kebetulan lewat dijalan desaku. Mungkin dia akan mengatakan “Ini jalan apa tempat latihan perang?” Tapi sudahlah, hal semacam itu sudah biasa bagi keseharian kami. Mengeluh pun rasanya takkan ada pemerintah yang memperhatikannya. 
Aroma tanaman-tanaman yang terguyur air hujan tercium jelas dirongga hidung. Suasana pagi persawahan tampak sepi. mungkin karena hujan. Hanya bunyi katak-katak sawah yang saling bersahutan. Aku berjalan diatas jalan setapak pinggiran sawah. Hendak memastikan jalannya air yang mungkin saja tersumbat. Sesekali kumenyapu pandang keseluruh penjuru sawah. Tepat dipaling ujung, Kardiman tengah membungkuk seperti sedang mencongkel saluran airnya yang tersumbat. Hujan dirasa telah berhenti. Aku menengadah menatap langit. Memastikan apakah hujan benar-benar telah mereda. ternyata benar, hujan telah tiada. Namun masih ada tempias cahaya yang mengkilat dan gelegar petir  yang menakutkan menggantikannya. Aku terkesiap. Namun selepasnya menganggapnya biasa. “Ada hujan, pastinya juga ada petir.” Batinku dalam hati. Kembali aku melihat ketempat Kardiman. Dan ternyata sudah tidak ada siapa-siapa disana. Dahiku mengkerut. “Apa mungkin dia sedang mencabuti hama rumput ditengah padinya?” Aku merasa ada yang ganjil. Langkahku menghampiri tempatnya. Sesekali menteriak-teriakkan namanya dengan lantang. Namun tak ada suara yang menjawabnya. Perasaanku semakin gusar. Sesampainya disana, astaghfirullah. Ada apa dengannya? Tubuhnya terlentang di tanah. Dan ada darah yang mengalir dikedua lubang hidungnya. Aku berjongkok disampingnya. Memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sekujur tubuhnya pucat keunguan seperti baru saja terpanggang. “Astaghfirullah, bukankah ini..?” Seketika aku teringat cerita ibu tentang orang yang terkena sambar petir. 
“Orang yang terkena sambar petir biasanya seluruh tubuhnya akan seperti usai dipanggang. Dan biasanya ruh atau semacam nyawanya akan masih berputar-putar menyerupai angin yang berpusaran kecil disamping kejadiannya. Lalu orang itu akan kembali selamat jika sesuatu yang seperti angin berpusaran kecil itu diusapkan kemukanya.” Aku terperanjat dari ingatan. Lalu beringsut mencari sesuatu. Dan benar, Sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang ibu katakan benar-benar nyata di depan mata. Aku sempat ragu menghampirinya. Sebab hal seperti ini baru pertama kali aku dapati. Namun akhirnya aku dapat melakukannya sesuai dengan dalam cerita ibu. Dan tak lama berselang, dada Kardiman terlihat seperti telah kembali berdegup. Menjadi bukti bahwa dia tidak menjadi mati.

*Guntoran: petir (istilah madura)


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PARADOKS DOMINASI KUASA DALAM KASUS FERDY S

  *Robert Dynic Peristiwa panjang yang entah sampai kapan akan berlangsung, tentu masih membuat publik bertanya- tanya dan berspekulasi. Disamping karena peristiwa ini menyangkut Keterlibatan beberapa tokoh dalam institusi penting negara, selain itu juga hal ini mendapat banyak perhatian publik karena berkaitan dengan tragedi   kemanusiaan yang tragis. Terlepas dari pada itu, penulis lebih tertarik membahas bagaimana konstruksi peristiwa, fakta sosial, dan gejala-gejala sosial yg menjadi latar terjadinya peristiwa ini. Peristiwa semacam ini tentu saja bukan pertama kalinya yang menunjukkan betapa “kotornya” rumah besar yang beranama kekuasaan dalam   intitusi tersebut.   Bahkan sejak era Reformasi bergulir, tidak dapat dipungkiri upaya membersihkannya selalu sulit dan justru malah sering muncul masalah rivalitas kepentingan internal, maupun eksternal khususnya dengan KPK. Misalnya kasus Cicak-Buaya Jilid 1-3. Selain itu mulai dari kasus simulator SIM, Susno Duaji...

Nasib Kabupaten Sumenep Pasca Pilkada: Politik Uang dan Kekuatan Kolektif Masyarakat dalam Perspektif Sosiologi

  Gambar: NU Online https://www.nu.or.id/nasional/jenis-jenis-politik-yang-harus-diketahui-warga-nu-6ap9k Pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah momentum penting yang tidak hanya menentukan pemimpin baru, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial politik di tingkat lokal. Kabupaten Sumenep, yang terletak di ujung timur Pulau Madura, dikenal tidak hanya karena kekayaan budaya dan tradisinya, tetapi juga karena dinamika politik lokal yang kompleks . Pilkada menjadi ajang tarik menarik antara dua kekuatan utama: politik uang money politics yang didorong oleh pragmatisme politik, dan kekuatan kolektif masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Kedua kekuatan ini tidak hanya memengaruhi hasil Pilkada, tetapi juga masa depan Sumenep sebagai sebuah entitas sosial, ekonomi, dan politik. Dalam tulisan ini, saya mencoba menganalisis bagaimana benturan antara politik uang dan kekuatan kolektif masyarakat memengaruhi nasib Kabupaten Sumenep pasca Pilkada, dengan menggunak...

SISI LAIN KAPITALISME

  *Robert Dynic Kapitalisme berasal dari kata capital artinya kepala. Namun akhirnya mengalami asimilasi bahasa yang kemudian mempunyai arti sebagai alat, bahan dll. Kapitalisme umunya kita pahami sebagai paham yang mengutamakan modal. Kapitalisme sendiri muncuul dari masyarakat agararis dan masyarakat industri.   Masyarakat agraris masayarakat yang hidupnya dihabiskan dengan masalah tanah atau bercocok tanam dsb. MARX menyebutkan etika protestant memrupakan salah satu sebab munculnya kapitalisme. Bahkan Calvinisme yang seotang pendeta, dia mengatakan bahwa ketika kita meau melakukan ibadah ada tiga hal yang harus dilakukan: bersedekah, Doktrin yang dipake oleh calvinisme adalah mengatakan bahwa ketika kamu ingin mencapai syurga maka kamu harus memiliki harta atau katakanlah kamu harus kaya. Garis besar munculnya kapitalisme adalah ketika terjadinya revolusi perancis. Bahwa dalam dinamika yang terjadi pada saat itu kekuasaan tanah ada ditangan raja berdasarkan legitimate ger...