Seperti suatu hal yang lazim bagi para manusia biasa pada umumnya. Kejadian-kejadian yang menyerupai lakon fiktif yang kebanyakan hanya terjadi di dalam sebuah cerita, kini benar-benar nyata di depan mata.
Pagi buta, langit tetap dalam keadaan semula. Membentang dengan mendung yang menyelimuti. Hujannya rintik meretas di atas atap seng perumahan. menciptakan bunyi yang merembes digendang telinga. Kuperhatikan langkah Kardiman yang lewati jalan becek depan rumah. Kakinya yang lebar di biarkan tak beralas. Capil lebar bertengger di atas kepalanya yang lonjong.
“Hendak kemana, Man?” Aku menyapanya. Dia menoleh ke arahku. Kemudian menghentikan langkah.
“Eh ini, Mad, mau membuat bendungan di ladang. Sepertinya tanaman akan kelebihan air jika hujan terus-terusan turun.” Jawabnya dengan senyum yang mengembang pada mukanya yang sedikit basah terkena percikan air hujan. Lalu dia melanjutkan langkahnya beitu aku mengangguk-ngangguk paham. Masih kuperhatikan langkahnya dari belakang. Kudapati tubuhnya tak lagi tegap seperti kala kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Aku mengenalnya sebagai sosok yang ulet dalam menggeluti pekerjaan apa pun. Termasuk saat kita berlomba-lomba untuk mendapatkan juara kelas dulu. Kehebatannya memang perlu diakui. Namun sayang beribu–ribu sayang. Nasab kami dari keturunan orang tak berkecukupan. Hingga pendidikan kami terjal dipertengahan jalan. Sementara zaman kita dulu masih tidak ada yang namanya beasiswa. Sudah pasti kelebihan-kelebihan yang kami miliki tak terwadahi. Keterpaksaanlah yang mungkin kami rasakan saat itu. Dengan mengambil alih keahlian orang tua sebagai buruh tani, akhirnya pun kami tenggelam menggelutinya.
Dia telah sampai di tikungan jalan. Tubuhnya tak lagi aku temukan. Hanya bekas jejak kakinya yang tersisa di tanah yanga berlumpur. Aku bangkit dan turun dari dipan. Sementara hujan tetap bertahan.
“Percuma saja menunggu hujan reda. Sepertinya untuk kali ini akan bertahan lama.” Ucapku pada diri sendiri. Kemudian aku melangkah ke dalam rumah. Mencari sebuah payung sebagai pelindung untuk pergi mengecek jalannya air di sawah. Ternyata benar, hujan semakin deras saja. Aku berjalan menjinjit guna tidak jatuh pada tanah yang berlumpur.
Andaikan ada orang asing yang kebetulan lewat dijalan desaku. Mungkin dia akan mengatakan “Ini jalan apa tempat latihan perang?” Tapi sudahlah, hal semacam itu sudah biasa bagi keseharian kami. Mengeluh pun rasanya takkan ada pemerintah yang memperhatikannya.
Aroma tanaman-tanaman yang terguyur air hujan tercium jelas dirongga hidung. Suasana pagi persawahan tampak sepi. mungkin karena hujan. Hanya bunyi katak-katak sawah yang saling bersahutan. Aku berjalan diatas jalan setapak pinggiran sawah. Hendak memastikan jalannya air yang mungkin saja tersumbat. Sesekali kumenyapu pandang keseluruh penjuru sawah. Tepat dipaling ujung, Kardiman tengah membungkuk seperti sedang mencongkel saluran airnya yang tersumbat. Hujan dirasa telah berhenti. Aku menengadah menatap langit. Memastikan apakah hujan benar-benar telah mereda. ternyata benar, hujan telah tiada. Namun masih ada tempias cahaya yang mengkilat dan gelegar petir yang menakutkan menggantikannya. Aku terkesiap. Namun selepasnya menganggapnya biasa. “Ada hujan, pastinya juga ada petir.” Batinku dalam hati. Kembali aku melihat ketempat Kardiman. Dan ternyata sudah tidak ada siapa-siapa disana. Dahiku mengkerut. “Apa mungkin dia sedang mencabuti hama rumput ditengah padinya?” Aku merasa ada yang ganjil. Langkahku menghampiri tempatnya. Sesekali menteriak-teriakkan namanya dengan lantang. Namun tak ada suara yang menjawabnya. Perasaanku semakin gusar. Sesampainya disana, astaghfirullah. Ada apa dengannya? Tubuhnya terlentang di tanah. Dan ada darah yang mengalir dikedua lubang hidungnya. Aku berjongkok disampingnya. Memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sekujur tubuhnya pucat keunguan seperti baru saja terpanggang. “Astaghfirullah, bukankah ini..?” Seketika aku teringat cerita ibu tentang orang yang terkena sambar petir.
“Orang yang terkena sambar petir biasanya seluruh tubuhnya akan seperti usai dipanggang. Dan biasanya ruh atau semacam nyawanya akan masih berputar-putar menyerupai angin yang berpusaran kecil disamping kejadiannya. Lalu orang itu akan kembali selamat jika sesuatu yang seperti angin berpusaran kecil itu diusapkan kemukanya.” Aku terperanjat dari ingatan. Lalu beringsut mencari sesuatu. Dan benar, Sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang ibu katakan benar-benar nyata di depan mata. Aku sempat ragu menghampirinya. Sebab hal seperti ini baru pertama kali aku dapati. Namun akhirnya aku dapat melakukannya sesuai dengan dalam cerita ibu. Dan tak lama berselang, dada Kardiman terlihat seperti telah kembali berdegup. Menjadi bukti bahwa dia tidak menjadi mati.
*Guntoran: petir (istilah madura)

Komentar
Posting Komentar