*penulis:Robert Dynic
Langit membentang begitu cerah, menjadi bingkai keceriaan penduduk perkampungan Braka. Sedemikian banyak penduduk telah berkubang dengan semua aktifitasnya masing-masing. Petani-petani melangkah riang dengan sebuah cangkul yang menopang setia dipundak kanan menuju ladangnya. Anak-anak desa dengan seragam sekolah lusuhnya bergegas menyusuri beberapa petak sawah untuk sekolah. Dan para ibu-ibu rumah tangga yang setia berdiam diri di depan tungku demi menunggu hasil masakannya untuk dikirimkan ketempat dimana sang suami menuai kehidupan.
Tidak biasanya cuaca cerah yang terjadi dipagi ini disertai hujan yang rinai. Semua orang yang mulanya bergelut dengan pekerjaannya menjadi bubar seketika. Ada sebagian yang berperasaan resah. Sebab cuaca kali ini menurutnya adalah tanda adanya orang yang sedang melakukan carok. Mayoritas penduduk desa ini masih kental kepercayaannya terhadap mitos-mitos terdahulu. Dan panas yang beriringan hujan merupakan salah satu kepercayaan mereka terhadap adanya percarokan yang juga mereka takutkan.
###
Hamidi baru saja terbangun dari tidur pulasnya. Tangan kanannya meraba-raba kesamping tubuhnya, memastikan keberadaan sang istri yang sudah tiada di samping pembaringannya. Tubuhnya dibuatnya bersandar pada sandaran ranjang yang berpernak-pernik. Sekali lagi tubuhnya digeliatkan, lalu bangkit memijak lantai dan melangkah ringan kearah dapur.
“Marni…” Panggilnya terdengar serak, ketika keberadaannya telah berada didalam dapur. Terlihat tungku masih tetap tak berarang. Kepulan asapnya yang hampir setiap pagi Marni menghidupkannya menggunakan pemantik, tak terlihat membubung melalui celah-celah kecil lubang dapur di pagi ini. Karena merasakan lelah sebab pencariannya hanya menghasilkan nihil, sempat ada kehendak untuk mendatangi teras depan tempat dimana sang istri biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi hangat pagi jika hari masih betul-betul pagi. Namun tak sampai kehendak itu terlaksana. Sebab tanpa disengaja gendang telinganya menangkap suara desahan parau dari balik tembok tempat barang-barang bekas tertumpuk di dalamnya. Dengan langkah gusar perlahan dia menghampiri ketempat dimana suara berasal. Suara itu semakin terdengar jelas. Tepat beberapa meter dari daun pintu yang dibiarkan tak tertutup rapat, Hamidi mengerutkan kening. Mendapati dua pasang kaki saling tumpang-tindih dengan sesekali bergerak-gerak ritmis. Sekali pun dia tak memalingkan muka dari pandangannya. Ada suatu benda ganjil yang baru saja dilihatnya dari salah satu pasang kaki yang mengkilat serupa emas berkilauan. Dia memutar ingatan. Lalu diam dan mengangguk-ngangguk kecil seraya memilin jenggotnya yang tipis. Lantas ingatannya bermuara pada kejadian satu tahun silam. Saat dimana dirinya dan Marni tengah mengikat janji suci. Bahkan peristiwa itu masih melekat begitu kental. Tentang sebuah pemberiannya terhadap Marni yang berupa “Ghelleng Soko” bertulisakn “MARNI” tepat ditengah-tengahnya. Dia terkesiap dari ingatannya. Tubuhnya dibuatnya mendekat kearah pintu. Lalu dengan gerak perlahan menyelinaplah kepalanya kebalik pintu yang terbuka itu. Sedang matanya menyorot tajam pada ghelleng soko yang ada pada salah satu pasang kaki tadi. Seketika matanya membelalak. Ditariknya kembali kepalanya yang tadi menyembul kebalik pintu, lalu dengan gerak kasar kakinya mengayun ke arah pintu. Pintu pun sepenuhnya terbuka menghantam dinding dengan keras. Dan nampaklah apa yang sedang terjadi di dalamnya. Semula hanya kelihatan dua pasang kaki dari balik pintu, kini nampak keseluruhan badannya begitu tubuhnya menyelinap kedalam ruangan itu. Spontan kedua pemilik kaki tadi beringsut bersamaan. Bersegera membetulkan pakaiannya yang hampir keseluruhan terlucuti.
“Persetan… apa yang kalian lakukan, hah?” Hamidi meradang. Tangannya mengepal dengan keras membuat urat-uratnya menyembul dari balik lapisan kulitnya.
“Mas, beri aku waktu untuk menjelaskan!”
“Cukup!” Marni terkesiap. Tubuhnya gemetar melihat Hamidi menatapnya sangar. Nafas Hamidi naik turun. Kemudian mata merahnya menatap sosok di samping Marni. Seoarang laki-laki dengan kumis tebal tengah diam dengan membuang muka menghindar dari tatapan Hamidi. Hamidi kenal betul laki-laki itu. Hasan. Ya, dia benar-benar Hasan! Tetangga sebelah yang hampir setiap pagi selalu lewat di depan teras rumah Hamidi. Hamidi menggeleng-gelengkan kepala, petanda dia tidak habis pikir terhadap kejadian itu. Lantas dia menghampiri Hasan yang mungkin juga diam ketakutan. Lalu tangan kekarnya menjangkau kerah baju hasan dengan kasar. Hasan hanya tersenyum sinis, membuat Hamidi semakin bengis. Pegangannya semakin keras. Hasan mendelik lalu memberontak spontan mendorong tubuh Hamidi. Hamidi terhempas membentur dinding. Segera dia bangkit kembali, sekejap diam melirik arit yang menggantung di dinding. Diraihnya benda itu lalu diangkat mengarahkannya ketubuh Hasan.
“Bajingan…” Teriaknya keras. Namun tak sampai benda itu melukai sasarannya. Sebab gerakan cepat Hasan mampu menghindari beberapa tebasan. Sementara Hamidi yang merasa aritnya tak berhasil menumbangkan lawan yang sedang ia kecam, dia kembali mengatur posisi. Sedang Hasan melangkah mundur hendak lari dari tempat itu. Tetapi usahanya hanya sia-sia. Sebab Hamidi telah mengangkat kembali aritnya tepat mengarah kebeberapa bagian tubuh Hasan.
Jlebb…
Jlebb…
Dua tebasan mengenai paha dan lehernya. Tubuhnya ambruk menghantam lantai dengan simbahan darah yang melebur. Hamidi mengalihkan tatapannya ke pojok ruangan yang disana terdapat Marni sedang membelenggukan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Sedang sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Hamidi menghampirinya. Kemudin mengusap halus rambut Marni yang terurai, lalu menjambaknya keras membuat wanita itu meringis kesakitan. Marni berusaha melepas cengkeraman suaminya. Lantas apa yang terjadi? Tiba-tiba tubuhnya tergemulai ke lantai. Ada darah yang mengalir disebagian tubuhnya. Rupanya, sebilah arit yang tadinya tergenggam ditangan Hamidi, Telah menancap dibagian tubuh Marni. Hamidi mematung didekat tubuh istrinya yang terkapar. Lumuran darah memenuhi telapak tangannya. Semua kekecewaan telah terbayar lunas. Namun, seperti masih ada rasa sesal yang tersisa dalam dirinya. Air matanya mengkristal sebelum kemudian jatuh membasahi danau kecilnya. Dia tertunduk lemas. Sekujur tubuhnya gemetar menahan tangis. Samar-samar terdengar derap langkah seperti dari sekian banyak kaki mendekat kearah rumahnya. Tak berselang lama pintunya terbuka dari luar. Beberapa orang yang berdiri dibalik pintu membelalakkan mata, mendekam mulut sebab tak kuasa melihat apa yang telah terjadi di dalamnya. Orang-orang itu menghambur kedalam saat sebelum kedua mata Hamidi benar-benar terpejam. Saat nadinya masih terasa berdentam. Hingga seluruh pandangannya berubah menjadi hitam, sehitam tinta pekat, yang tak lagi menemukan kata untuk dicatat.
Komentar
Posting Komentar